Community Manager – Jangan Takut Tampil Beda

  • Community Manager membangun komunitas dari mendengarkan feedback para anggotanya.
  • Membangun network adalah keseharian pekerjaan Community Manager.
  • Dalam melamar pekerjaan, jangan takut untuk menunjukkan siapa kamu dan tampil beda.
  • Tantangan seorang Community Manager adalah membagi waktu untuk diri sendiri.

Berawal dari kegemarannya mendengarkan radio, Vitto Christaldi – atau akrab dipanggil Vitto, memiliki cita-cita menjadi seorang penyiar radio. Pernah ingin menempuh pendidikan di jurusan ‘broadcasting’, akhirnya ia memilih meneruskan pendidikan tingginya di jurusan International Communication and Media di Utrecht University of Applied Sciences di Belanda. Bermodal public speaking yang sudah terasah selama menjadi mahasiswa komunikasi dan menjadi dirinya sendiri, ia bekerja di Bali sebagai Community Manager di Hubud Coworking Space.

Public Speaking Terasah di Jurusan Komunikasi

Saat SMA, aku suka mendengarkan radio, jadi timbul keinginan menjadi seorang penyiar radio. Jadi penyiar radio itu cocok untuk aku yang pengen tampil tapi masih malu untuk berbicara di depan publik. Dari situlah aku ingin masuk ke jurusan  broadcasting, tapi sayangnya jurusan itu nggak ada di universitas yang aku mau di Belanda.

Akhirnya, aku memilih jurusan komunikasi yang umumnya lebih gampang memasuki berbagai industri. Kuliah di jurusan komunikasi ternyata mengasah kemampuanku untuk jadi lebih pede berbicara di depan umum. Berkat itu aku jadi bisa menekan sisi pemaluku  dan ternyata membantuku di pekerjaan sebagai community manager.

Direkrut karena Menjadi Diri Sendiri

Setelah selesai kuliah, aku tertarik untuk tinggal di Bali. Aku penasaran dengan industri startup. Aku perbanyak riset lowongan pekerjaan melalui Google dengan menggunakan keyword ‘startup’. Agar lamaran pekerjaanku berbeda dengan yang lain, aku sertakan fotoku dengan menggunakan dasi kupu-kupu. Ibuku sempat menegurku untuk memasang foto yang lebih formal, tapi aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri.

Setelah mengirimkan CV ke beberapa perusahaan, aku dapat panggilan untuk mengikuti wawancara dari dua perusahaan, salah satunya adalah di Hubud Coworking Space. Aku sangat tertarik dengan Hubud karena coworking space erat kaitannya dengan startup dan sepertinya merupakan lingkungan yang menarik dimana banyak hal-hal baru dapat ditemui.

Dengan strategi yang hemat, akupun memenuhi panggilan wawancara tersebut. Aku sengaja menjadwalkan wawancara tersebut dalam satu hari untuk menekan budget akomodasi. Tiket pesawat kubeli dan aku berangkat ke Bali.  

Sebenarnya saat itu Hubud Coworking Space sedang tidak membuka lowongan kerja, namun mereka tertarik dengan CV yang kukirim dan fotoku yang unik dan unyu. Mereka bilang bahwa Hubud memerlukan orang seperti aku. Mereka menyuruhku untuk tes kepribadian dan ternyata hasilnya aku ekstrovert – Hubud juga memerlukan orang yang seperti ini untuk membantu mengelola event mereka. Akhirnya mereka menerimaku bekerja sebagai community manager.

Hal-Hal Baru yang Membuka Mata

Setelah diterima di Hubud, bosku sangat welcoming dan bahkan membawaku keliling Ubud naik sepeda motor untuk bisa memberikan gambaran lingkungan sekitar. Selain itu, aku sangat tertarik bekerja di Hubud karena dunia coworking space sangat asing bagiku dan membuatku penasaran karenanya.

Berbeda dengan ibuku yang percaya dengan apapun yang aku pilih, ayahku sebenarnya mempertanyakan juga, tempat apakah sebuah coworking space itu? Apa yang aku kerjakan di sana? Saat itu coworking space masih lumayan baru. Ayahku tetap mengirimkan referensi lowongan kerja di Jakarta setelah aku bekerja di Bali, tetapi beliau juga ikut mencari tahu apa itu coworking space. Pernah beliau berkesempatan untuk menyaksikanku bekerja saat menjadi MC di sebuah event Hubud dan akhirnya ayahku mengerti apa yang kukerjakan dan mengerti seperti apa dunia kerjaku.

Ngobrol adalah Rutinitas

Keseharianku sebagai Community Manager pada intinya adalah ngobrol dengan para member. Sambil mengobrol dengan mereka, aku mencatat dari mana asal mereka, apa yang mereka kerjakan, beserta data-data demografis lainnya.

Aku juga mencari tahu dari mana mereka mendengar tentang Hubud, agar aku bisa mengerti channel marketing mana yang sebenarnya paling efektif.

Aku juga mencari tahu apa yang mereka sukai, topik apa yang membuat mereka tertarik sehingga tim kami bisa membuat event yang relevan dengan ketertarikan member. Selain itu, aku juga bertanggungjawab atas berbagai event networking seperti member’s lunch dan social hour.

Seorang Community Manager selain menjadi ‘maskot’ yang dekat dengan semua orang, ia juga berperan sebagai ‘telinga’ dari perusahaan yang menampung berbagai feedback dari para member sehingga perusahaan dapat menjadi lebih baik lagi dalam mengakomodir para member.

Community Manager juga perlu bisa memahami apa yang member butuhkan dengan menjadi teman dekat mereka – profesional namun tetap tulus dalam waktu yang bersamaan.

Menjadi Bagian Hidup dari Members

Tantangan dalam pekerjaan ini adalah banyaknya waktuku yang didedikasikan untuk orang lain. Pada umumnya, aku suka membuat orang senang dan ternyata untuk itu aku harus menghabiskan waktu yang banyak juga.

Seringkali aku merasa sangat akrab dengan para member dan menjadi bagian dari hidup mereka dan mereka pun menjadi bagian hidupku. Maka, saat mereka harus pindah ke tempat lain, aku pun akan merasa kehilangan.

Untuk yang belum tahu, coworking space di Bali, termasuk Hubud, pada umumnya terdiri dari para digital nomads – orang-orang yang bekerja sambil traveling, sehingga mereka sering berpindah-pindah lokasi dengan bekerja secara online. Makanya, aku sering ditinggal para member yang sekaligus sudah menjadi teman baikku sehingga mau tidak mau aku mengalami emotional rollercoaster, karena banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupku.

Walaupun para member sering datang dan pergi, pertemanan kami seringkali tidak lekang oleh waktu dan tempat, sehingga aku bisa membangun jejaring sosialku di seluruh dunia. Bahkan, tidak jarang yang menawarkan tempat tinggalnya jika kebetulan aku traveling ke negara mereka. Jadi, aku punya banyak teman di seluruh dunia.

Aku merasa berhasil sebagai Community Manager saat para member yang harus meninggalkan Hubud benar-benar merasa berat untuk beranjak, bahkan kadang ada yang sampai menangis ketika harus pergi dari Hubud. Mereka sudah menganggap tim Hubud sebagai keluarga, dan mereka suka tempatnya bukan hanya karena fasilitasnya, namun juga karena orang-orang di dalamnya. Para member seringkali menunjukkan kepeduliannya terhadap Hubud sebagai komunitas dan itulah hasil dari kerja bagus yang bukan hanya aku yang mewujudkannya, namun juga seluruh tim Hubud yang berhasil membuat members terkesan dan nyaman.

Berhasil untuk Jadi Lebih Pede 

Bekerja sebagai Community Manager di Hubud membuatku mengembangkan kemampuan public speaking dan sangat mengembangkan kepercayaan diriku. Aku menjadi nyaman menjadi diriku sendiri karena aku belajar untuk tidak menganggap feedback orang secara personal. Tiga hal tersebut yang sangat berubah dari diriku, karena saat pertama masuk bekerja di Hubud, aku tergolong orang yang takut untuk berbicara. Bahasa sehari-hari yang kupakai harus bahasa Inggris, sehingga aku takut untuk membuat kesalahan. Namun saat itu, aku diberikan public speaking course dari Hubud dan hal itu sangat membantuku. Tidak hanya kemampuan public speaking ku yang berkembang namun juga kemampuanku untuk membangun obrolan dengan orang lain.

Kemampuan networking ku bertambah karena aku mengobrol dengan banyak orang dan berteman dengan mereka. Selain itu, karena terkadang aku juga harus mengadakan events untuk para member, aku juga mengembangkan kemampuanku untuk mengelola events dan membuatnya lebih menarik. Aku juga ikut mengelola media sosial, sehingga kemampuanku untuk engage dengan orang-orang di media seperti Facebook, Instagram, dan Twitter ikut meningkat.

Menjadi Diri Sendiri adalah Kunci

Jika ingin menjadi Community Manager, hal yang terpenting adalah menjadi dirimu sendiri. Mungkin terdengar klise, namun bila kamu berhasil menjadi dirimu sendiri, kamu akan lebih percaya diri dan lebih nyaman menjalankan pekerjaanmu. Triknya adalah dengan mencari satu atau dua key people yang bisa menerima dirimu apa adanya, sehingga bergaul bersama mereka membuatmu percaya diri untuk berhadapan dengan orang-orang lain. 

Jujur saja, aku tidak banyak membaca, namun saranku, kamu bisa memahami dunia coworking dan community building lewat seorang tokoh bernama Alex Hillman (https://dangerouslyawesome.com/). Dia adalah pendiri coworking space tertua dan dia suka menulis blog tentang coworking space dan community building.

Dalam hal negosiasi gaji, aku selalu menggunakan achievements ku untuk meminta kenaikkan gaji. Aku akan menyajikan data-data nyata tentang hasil kerjaku kepada owner. Menurutku, menunjukan inisiatif di awal karir itu penting, dan akan lebih baik jika inisiatif ini bisa membuahkan hasil di luar ekspektasi. Dengan begitu, kerja keras kita akan bisa dihargai lebih.

Community Manager di Tengah Pandemi

Dalam masa pandemi ini, Community Manager dituntut untuk bisa tetap engage dengan para member secara online. Platform komunikasi seperti Zoom jadi semakin umum untuk dipakai mengadakan events. Menurutku, membangun engagement secara online lebih susah karena tidak ada sentuhan personal yang sama seperti jika kita bertemu orang-orang secara langsung.