Partnership Manager – Cukup tinggal WA saja

  • Sebagai seorang Partnership Manager kita harus punya goal dari partnership tersebut, entah itu menambah pemasukan, menambah eksposur atau branding
  • Faktor kesuksesan Partnership Manager adalah ketika kita bisa membangun hubungan secara personal dan berkelanjutan
  • Seorang Partnership Manager harus punya kemampuan people skill agar dapat dengan mudah membaca kebutuhan dan keinginan orang lain
  • Network kita adalah aset yang berharga dan bisa menjadi bargaining power

Tim Kisah Kerja mewawancarai Maria Agustin (@maria.gode), Partnership Manager dari Hubud coworking space. Maria dulunya bercita-cita jadi seorang diplomat. Setelah lulus dari jurusan sastra Inggris Universitas Indonesia, Maria melanjutkan studi S1nya di Jurusan Perbandingan Politik. 

Aku ingin memecahkan masalah dari tingkat akar.

Setelah lulus dari Jurusan Perbandingan Politik, aku berkesempatan bekerja di hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan.

Awalnya aku sangat senang dengan pekerjaan ini karena apa yang kita lakukan sangat berarti. Aku mulai membangun kemampuan partnership ku, dari belajar cara menyusun suatu perjanjian, mencari tahu visi dan misi antarnegara, sampai bagaimana caranya membangun hubungan dengan para orang yang high profile.

Tapi setelah 6 tahun bekerja dengan pemerintah, aku jadi demot. Selain tidak suka dengan padatnya kota Jakarta, aku merasa ingin memecahkan masalah di level grassroots daripada membicarakan dari top-down. Aku mulai menyadari masalah-masalah baru yang timbul dan mempertanyakan apakah solusi yang kita berikan itu bekerja atau tidak.

Akhirnya dengan berat hati aku resign dari pekerjaanku dan aku memutuskan untuk pindah ke Bali.

Dari teman nongkrong jadi teman kerja.

Disaat aku pindah ke Bali, aku mencoba berbagai macam karir dari bekerja di Animal Welfare sampai di bidang Property Development.

Pertemuanku dengan Hubud awalnya karena aku suka nongkrong aja disana, kebetulan teman kuliahku yang bernama Risyiana adalah Communication Manager di Hubud.

Hubud adalah sebuah coworking space di Bali. Menjelang adanya event besar Coworking Unconference Asia, Risyiana banyak bertanya-tanya ke aku mengenai cara membuat partnership, karena dia tahu tentang background pekerjaanku.

Risyiana pun bertanya, “Kamu mau nggak mengurus partnership untuk acara CU Asia?”

Buat aku, ini kesempatan bagus, jadi aku mengiyakan.

Awalnya aku direkrut dengan model commission-based yang bertugas untuk bikin partnership dan mengurus sponsorship untuk event CU Asia.

Tapi karena saat itu aku pun juga bekerja full-time di perusahaan lain, aku jadi tidak bisa fokus.

Yang membuat aku kaget malah teman-teman di Hubud bilang, “Kenapa kamu nggak ngelepas aja kerjaan kamu dan join full-time sama kita?”.

Aku langsung bilang oke karena selain ini adalah pekerjaan yang aku suka, teman-teman yang ada di Hubud pun aku juga suka banget.

Cukup tinggal WA saja

Sebagai seorang Partnership Manager kegiatan sehari-hariku kebanyakan adalah bikin gol yang berkaitan dengan perusahaan.

Buat aku sebagai Partnership Manager sangat membantu kalau kamu bekerja berdasarkan dengan gol. Karena partnership itu bentuknya macam-macam, ada partnership yang fungsinya untuk menambah pemasukan, exposure, advertising dan lain-lain, makanya goll yang mau kita capai harus jelas.

Apalagi di Hubud sektor partnership nya amat dinamis. Contohnya semisal bulan ini perusahaanku butuh exposure berarti untuk  partnership bulan ini aku akan berusaha mencari coworking space-coworking space di Eropa, supaya mereka lebih tahu tentang brand Hubud. Atau semisal bulan depan fokusnya adalah menambah pemasukan, maka disaat kita menyelenggarakan event, kita harus tahu apa yang bisa kita jual.

Sehari-hari aku akan terus membangun relationship, memang tidak terlihat seperti pekerjaan yang signifikan tetapi kalau aku bisa dengan mudah mengirim pesan lewat Whatsapp kepada orang dari Amazon Web Service dan saat itu juga aku bisa dengan mudahnya bilang, “Hey kita ada event ini, kamu mau jadi partner kita?” itu menurutku adalah ukuran kesuksesan dari pekerjaanku dan ukuran bahwa aku sudah berhasil membangun hubungan personal dengan para partnerku. 

Selain itu aku juga melayani request partnership yang masuk, jadi aku harus menyamakan visi dan mencari bagaimana kita bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Di sinilah seninya, karena terkadang banyak orang yang ingin berkolaborasi tapi tidak bisa mengartikulasi keinginan dan kebutuhan mereka. Terutama jika gol kolaborasi tidak jelas. 

Jadi seorang people person, biarpun kamu adalah orang introvert

Ada beberapa hal yang aku bangun sebagai seorang Partnership Manager, yang pertama adalah dari segi administrasi, berkat pekerjaanku di pemerintahan, aku jadi bisa menulis perjanjian dengan baik. Karena banyak menulis tentang MOU serta Terms and Conditions.

Selain itu aku juga mengasah kemampuan negosiasi (tapi bukan negosiasi jual-beli, ya) ini lebih negosiasi untuk mencari persamaan antara perusahaan satu dengan yang lain dan mencari jalan tengah yang oke buat keduanya, “Aku pengen ini, dan kamu butuh itu. Lalu gimana cara kita membuat semua jadi kenyataan” sehingga semua golnya tercapai dan semuanya senang.

Sifat paling penting seorang Partnership Manager adalah menjadi seorang people person: bagaimana kamu secara tulus mengetahui keinginan orang. Dulu aku berpikir bahwa sifat ini hanya dimiliki oleh seorang extrovert, tapi setelah bekerja di Hubud aku sadar bahwa kamu tidak perlu jadi seorang extrovert untuk jadi people person, berkat keintrovertanku, aku jadi lebih tahu kemauan orang dan aku dapat dengan cepat mencari solusinya. I take care of humans

Yang terakhir, skill yang aku asah adalah bagaimana mengukur apakah partnership kita sukses atau tidak, supaya partnership kita bisa berlangsung dalam jangka panjang. Semisal kita berpartner dengan suatu perusahaan dimana perusahaan itu ingin meningkatkan pemasukan dan kita ingin meningkatkan exposure, bagaimana di akhir tahun kita bisa mengevaluasi apakah kedua gol perusahaan sama-sama tercapai melalui alat ukur yang ada.

Sebagai seorang Partnership Manager, aku juga dapat banyak barang gratis seperti kesempatan nginep di hotel atau dapat tester di restoran. 

Bawalah network mu kemanapun kamu pergi.

Jika kamu ingin bekerja sebagai Partnership Manager maka yang pertama-tama kamu harus temukan adalah industri atau perusahaan yang kamu suka. Karena sebagai Partnership Manager, kamu berdiri di garda depan sebagai Brand Ambassador untuk mempromosikan perusahaan tersebut. Jika kamu suka dengan brand perusahaan, maka kamu akan menjualnya dengan tulus tanpa kepura-puraan.

Kamu juga bisa melihat banyak talks mengenai negosiasi dan networking. Berlatihlah untuk membuat matriks atau kanvas sendiri. Contohnya, jika ada perusahaan A memiliki kebutuhan a,b,c dan potensi untuk kerjasama kita ada 1,2,3,4,5,6,7. Dari 7 potensi kerjasama ini apakah masuk dengan gol dari perusahaan A dan berapa skornya. Sehingga kita ada bayangan untuk skala prioritas perusahaan mana yang bisa kita reach out dulu.

Banyaklah baca buku-buku tentang sales. Selain itu di era digital kamu juga harus memperdalam Client Relationship Management (CRM) tools seperti Zoho, Hubspot atau Beacon. Carilah CRM yang memiliki fitur khusus untuk partnership atau fundraising. CRM bisa membantu kita untuk menyimpan informasi mengenai potential leads dan juga mengetahui nilai dari partnership tersebut.

Untuk masalah gaji, semuanya tergantung dari industrinya. Beberapa tempat juga menyediakan gaji berdasarkan komisi, sehingga dari setiap partnership yang gol yang berkaitan dengan revenue, maka kamu akan mendapat komisi sekian persen.

Apabila kamu ingin menjadi Partnership Manager maka perusahaan akan sangat menghargai jika kamu sudah punya network dari pekerjaanmu sebelumnya, ini bisa menjadi bargaining power untuk mendapatkan posisi Partnership Manager.