Content Writer and Social Media Manager – Buat kamu yang Hobi Kepoin Tren Terkini

  • Sebagai seorang Content Writer, aku dituntut untuk tahu tren-tren terbaru di masyarakat mulai dari gaya bahasa atau isunya
  • Bekerja sebagai Content Writer bisa menjadi pekerjaan part time ataupun full time
  • Seorang Content Writer harus banyak-banyak menulis dan juga membaca

Karena menyukai Bahasa Inggris, Adhitya Putra (IG @megane.hunter) lantas melanjutkan pendidikan tingginya di jurusan Sastra Inggris, Universitas Udayana. Walaupun begitu, pernah terlintas di benaknya untuk masuk ke jurusan Desain Komunikasi Visual karena ia suka mempelajari desain grafis sekaligus menggambar. Setelah lulus dan sempat bekerja menjadi seorang guru privat, kegemarannya dalam menulis membuat Adhit terjun ke dunia content writing saat kesempatan tersebut terbuka untuknya.

Nggak Jauh-Jauh dari Storytelling

Saat ini, aku bekerja sebagai content writer dan social media manager di sebuah startup. Karena aku belajar kesusastraan dan storytelling semasa kuliah di Jurusan Sastra Inggris, bisa dibilang, latar belakang studiku cocok dengan pekerjaanku sebagai content writer. Sayangnya mungkin bagi sebagian orang nggak terlalu relevan untuk seorang social media manager. Biasanya pekerjaan seperti ini membutuhkan orang yang mengerti tentang desain, memiliki pikiran yang kreatif, dan update  tentang tren apa saja yang sedang berlangsung di masyarakat.

Namun, hal itu nggak jadi masalah karena kedua pekerjaan tersebut toh memerlukan unsur menulis konten dan storytelling pada akhirnya.

Harus Mengerti Tentang Perusahaan dan Tema yang Diusungnya

Sebenarnya sebelum menjadi content writer dan social media manager, aku sempat menjadi guru privat di sebuah instansi swasta untuk beberapa saat. Tapi akhirnya aku memilih untuk berhenti karena I don’t think it’s good for me untuk ngajar terus-terusan. 

Akhirnya, selama 3-4 bulan aku nganggur dan bingung mau kerja apa. Then, ada teman aku yang menawarkan lowongan pekerjaan content writer di salah satu startup yang dia kenal, dan mereka sedang membutuhkan penulis untuk program nasionalnya. Jadilah aku melamar kerja di sana. 

Interview-nya berjalan seperti interview kerja perusahaan pada umumnya. Tapi one thing yang berbeda adalah, karena aku terbiasa untuk menulis hal-hal yang sifatnya subjektif, seperti review dan social commentary, dalam interview itu mereka bertanya apakah memungkinkan kalau aku misalnya diminta menulis konten dengan tema tertentu. Waktu itu tema spesifiknya adalah tentang startup dan teknologi, sedangkan aku masih buta banget tentang tema tersebut. Maka dari itu, ya, aku harus mempelajari lebih banyak tentang dua hal itu. 

Nggak hanya itu saja, dalam sesi interview-nya banyak ditanyakan apakah aku pernah mendengar atau paham tentang industri perusahaan tersebut, bisakah menulis tentang startup, dan sebagainya. Namun, akhirnya aku diterima sebagai content writer di program perusahaan tersebut. Saat itu, aku diminta untuk menangani konten dari blog yang sedang berjalan aja, jadi aku belum benar-benar masuk ke perusahaannya.

Aku bekerja secara remote, karena startup ini aktifnya di Jakarta, sedangkan aku berdomisili di Bali.

Riset adalah Rutinitas Wajib

Aku cukup shock waktu awal-awal bekerja secara remote karena terbiasa bekerja dengan bertatap muka, sehingga ada physical connection-nya dengan rekan kerja lain. Selain itu, hal lain yang membuat shock adalah saat konten yang diminta juga dibutuhkan cepat, tapi untuk menghubungi supervisor-ku cukup sulit. Sebagai content writer, aku juga membutuhkan review serta saran untuk konten yang sedang dikerjakan karena di dalam dunia menulis ada yang namanya editorial, jadi aku nggak kerja sendirian. 

For your information, bekerja sebagai content writer dan social media manager formatnya bisa freelance, part-time, maupun full time. Karena aku termasuk content writer dan social media manager yang bekerja secara full time, jam kerjaku adalah pukul 9 pagi sampai pukul 6 sore. 

Rutinitasku banyak berhubungan dengan riset. Untuk menulis konten yang bisa relatable dan relevan ke target pembacanya, aku perlu tahu tentang tren-tren terbaru yang ada di masyarakat; seperti gaya bahasa anak muda atau isu-isu apa yang sedang tren, dan sebagainya. 

Sebagai social media manager, aku juga mendesain konten yang bisa menarik perhatian followers dari media sosial milik startup tempat aku bekerja. Jadi, untuk apa yang lagi trending sekarang itu penting banget. Dari apa yang aku perhatikan, banyak orang yang mengelola media sosial mereka dengan sesuka hati, tanpa memperhatikan preferensi target audience mereka. Padahal, menurutku, kalau kita mau memperkenalkan sesuatu kepada orang atau menjual produk tertentu, kita harus mengenal market-nya dulu. Disitu pentingnya riset.

Biasanya saat jam pagi, aku review kerjaanku dulu sampai pukul 10. Terus aku mengerjakan apa yang harus kukerjakan sesuai daftar dan deadline, biasanya dari pukul 10 sampai pukul 12. Pukul 12 sampai pukul 1 biasanya aku mulai riset sambil makan siang, cari tahu apa yang sedang trending sekarang dan isu-isu yang sedang hangat dibicarakan, jadi bisa membuat konten yang relate dengan audiens, dan sekaligus menyisipkan pesan dari perusahaanku sehingga bisa membangun awareness tentang produk perusahaanku.

Contohnya, isu yang trending akhir-akhir ini adalah tentang pandemi virus corona, jadi aku buat konten dengan tema corona dalam konteks startup tempat aku bekerja. Sebagai startup yang berjalan di industri coworking space, perusahaanku banyak mendukung entrepreneurship, jadi contohnya konten yang akan aku buat adalah tips untuk survive bagi bisnis di industri tertentu di tengah pandemi, atau misalnya bagaimana coworking space ikut serta mencegah penyebaran virus corona.

Latihan Menulis Runtut dan Membangun Pengalaman Pembaca

Secara umum, kemampuan yang berkembang selama jadi content writer adalah kemampuan penggunaan diksi, gaya bahasa, dan menyusun struktur bahasa yang oke sesuai dengan target audience

Diksi dalam artian pemilihan kata yang relevan dengan konteks yang dibicarakan. Contohnya jika sedang buat konten yang membicarakan hal yang sangat spesifik dan formal, maka harus menggunakan bahasa yang sesuai juga dengan tema tersebut. Begitu pula sebaiknya. Jadi nggak boleh pakai bahasa yang sembarangan atau pakai bahasa sehari-hari yang berlawanan banget sama temanya.

Aku juga belajar banyak tentang struktur penulisan, mesti paham kapan kita ngomongin bagian ini dan kapan ngomongin bagian itu, jadi nggak lompat-lompat. Karena salah satu tujuan dari content writing adalah pengalaman bagi si pembaca itu sendiri, maka sebisa mungkin, kita nggak membuat pembaca bosen di awal dan pusing atau ribet waktu membaca konten kita.

Karena sebagai social media manager harus paham tren juga, aku berhasil ningkatin kemampuan risetku. Seorang social media manager juga harus paham teknologi dan media-media pendukungnya, seperti  Twitter, Instagram, dan lain-lain, beserta analytics-nya dan timing orang menggunakan media sosial itu gimana setiap harinya. Selain itu, skill desainku juga terasah, seperti bisa belajar tentang user interface dan juga user experience; tentang layout, dan desain apa yang sedang tren – gaya bahasa dan desain yang instagrammable-nya audience zaman sekarang.

Membawakan ‘Wajah’ Perusahaan

Tantangan menjadi seorang content writer yang aku rasakan selama ini adalah (1) harus membawakan persona perusahaan tempat aku bekerja dalam segala konten sehingga idealisme dan sudut pandang pribadi dalam konten harus disimpan dulu. Aku harus kenal betul persona atau image dari perusahaan itu, maksudnya kalau misalkan diumpamakan sebagai orang, apakah perusahaan itu termasuk orang yang serius, chill santai, atau agak lebay maybe. That way, aku bisa memakai gaya penulisan dan komunikasi sesuai persona perusahaan tersebut, dan selain itu (2) harus bekerja secara efisien karena dalam sehari harus menulis beberapa konten. Di sini perlu dilatih kemampuan menulis cepat.

Sedangkan, jadi social media manager juga ada tantangan tersendiri, yaitu (1) harus sabar dalam menghadapi audience di media sosial karena kita menjadi ‘wajah’ perusahaan itu sendiri. Jadi harus jaga image. (2) Teliti sebelum mengunggah konten; harus diperiksa kembali apakah sudah benar detailnya (terutama bila menyangkut detail sponsor dalam konten event), apakah sudah sesuai guideline perusahaannya atau belum, apakah tulisannya sudah rapi, sebelum akhirnya di-upload. Pernah ada kejadian, konten yang aku upload, belum ada 5 menit, diminta dicopot. Entah karena kesalahanku kurang teliti atau ada perubahan detail dari pihak perusahaan. (3) Tetap harus berusaha untuk engage dengan audiens di media sosial, terlebih sekarang pada masa sepi event bagi coworking space saat pandemi ini. Harus tetap update tentang tren-tren terbaru agar bisa buat konten yang relevan dan relatable di situasi apapun. 

Belajar Banyak untuk Bersosialisasi dan Mengasah Kemampuan Content Marketing

Selama menekuni pekerjaan ini di tempat kerjaku, aku banyak belajar tentang how to engage with people. Dari dulu, aku adalah tipe orang yang pendiam dan cenderung malu-malu. Lewat pekerjaan ini yang mengharuskanku bertemu banyak orang, aku jadi lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan orang yang belum aku kenal, entah itu secara online maupun offline. Selain itu, aku juga berkesempatan untuk networking, sehingga aku mendapat banyak network pekerjaan atau profesi juga.

Menjadi social media manager juga melatih kemampuan desain yang berbasis marketing. Aku jadi tahu bagaimana menjual sebuah produk lewat konten. Hal ini juga aku rasa berguna di masa depan, kalau aku punya brand-ku sendiri.

Biasakan Membaca, Menulis, dan Mendesain

Untuk menjadi content writer, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa (1) kamu harus tahu apa yang sedang trending, bisa dicek lewat trending page Twitter, di Facebook, atau lihat di Instagram, hashtag apa yang lagi rame di sana. Hal itu bertujuan untuk memudahkan bikin konten yang cocok dan relate dengan audience kamu. Bisa juga pakai Google Trends untuk ngecek apa yang sedang tren dalam rentang waktu tertentu secara demografis atau geografis tertentu. Misalnya, kita bisa cek di bulan Januari 2020 di Indonesia, keyword apa yang paling banyak dicari orang di Google. Dari situ kita bisa tahu apa yang lagi trending di Indonesia saat tanggal atau bulan itu.

Selain itu, saranku untuk kamu yang baru mulai menulis, (2) try to read a lot, entah itu portal berita online, buku, blog atau akun Instagram orang lain, sampai kamu dapetin tipe penulisan dan topik yang kamu suka. Setelah dapetin itu semua, kamu bisa mulai dengan menulis blog kamu sendiri atau coba menulis di media sosial seperti note di Facebook atau buat thread di Twitter. Sering-seringlah membaca dan sering-seringlah menulis, nggak usah mikir dulu apakah tulisannya bagus atau jelek. Manfaatkan teman-temanmu juga untuk ngecek dan ngasih kritik untuk tulisanmu, apakah pesannya sudah nyampe ke mereka. 

Sebagai content writer, (3) kamu juga harus tahu dulu kontennya mau dimuat di mana. Contohnya di majalah, atau kalau misalkan di portal fashion, maka kamu harus mempelajari tentang fashion. Seperti halnya aku yang menulis konten untuk perusahaan yang bergerak di industri coworking space dan mengusung tema startup, aku harus sering baca konten tentang startup.

Semakin sering menulis dan membaca, kamu akan terbiasa menulis cepat.

Belajar jadi content writer juga bisa lewat online course yang sudah banyak beredar di internet. Manfaatkan online course gratis yang menjamur akhir-akhir ini.

Sedangkan, sebagai social media manager kamu butuh belajar desain visual dan cara komunikasinya dengan audience, serta paham dengan analytic dari media sosial itu sendiri. Bagi pemula, kamu bisa mulai dengan tools yang gampang dipakai, seperti Canva atau Flaticon secara online atau software desain secara offline. Lalu, pahami cara kerja analytic media sosial dan belajar tentang kebiasaan dari followers-mu dalam menggunakan media sosialnya.