Peneliti – pekerjaan orang dinamis

  • Peneliti merupakan pekerjaan yang membutuhkan tingkat fokus dan ketelitian yang tinggi.
  • Peneliti yang sukses tidak pernah sendiri, harus terdiri dari tim yang beragam dan bisa lintas studi ilmu, lintas universitas bahkan juga lintas negara.
  • Pekerjaan seorang peneliti harus digandengkan dengan profesi lain untuk bisa jadi komplementer dari profesi tersebut.
  • Pemerintah Indonesia mulai peduli terhadap dunia penelitian dengan memberikan dana hibah untuk para peneliti.

Tim Kisah Kerja menyempatkan untuk mewawancarai Dr Yudith Annisa Sp.PD (@yudithannisa) seorang dokter spesialis penyakit dalam, Dosen Fakultas Kedokteran di Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan juga Peneliti Grup Pylori dan Mikrobiota di Lembaga Penyakit Tropis. Kami berkesempatan untuk mewawancarai dr Yudith dalam cakupannya sebagai salah satu peneliti muda wanita di Indonesia. Banyak yang berpendapat sebagai seorang peneliti itu membosankan, isinya orang-orang serius dan kutu buku. Tapi kenyataannya pekerjaan peneliti ini sangat dinamis dan jauh dari membosankan. Jadi simak kisahnya berikut ini

Kecemplung jadi seorang peneliti

Buat kebanyakan orang yang pernah menjalani S1 pasti pernah melakukan suatu penelitian entah itu berupa skripsi atau karya ilmiah, tetapi Penelti sebagai sebuah profesi sebenarnya belum umum di Indonesia. Minatku untuk masuk ke dunia penelitian sebenarnya dimulai setelah aku lulus dari fakultas kedokteran. Saat itu aku bekerja di LSM yang berhubungan dengan HIV/AIDS sebagai Manager Care and Support Team. Tugasku saat itu adalah mengumpulkan data terutama untuk orang-orang yang punya HIV tapi masih dalam stadium 1 dengan misi untuk membuat sistem rujukan bersama dengan Rumah Sakit Dr Sutomo. Dari pengalaman ini aku belajar untuk memperoleh banyak data. 

“Lalu data ini harus kita apakan?” Ternyata dari data-data tersebut banyak sekali yang bisa kita sintesis. Sayangnya walaupun aku punya minat dalam mengumpulkan data dan riset, tapi belum ada sosok mentor yang bisa menolongku untuk mengoptimalkan data-data yang sudah aku dapatkan, nggak cuman untuk ditampilkan tapi bagaimana data-data ini seharusnya bisa digunakan untuk merubah suatu kebijakan. Sempat sih data-data itu kita berikan kepada pemerintah sebagai bahan acuan, tapi aku yakin bahwa sebenarnya masih banyak potensi yang bisa kembangkan dari data-data tersebut. 

Setelah dua tahun bekerja di LSM, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku menjadi Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Sebagai salah satu syarat kelulusan, seorang dokter spesialis harus melakukan karya ilmiah. Di masa pendidikanku, banyak senior-senior spesialis penyakit dalam yang sedang melakukan riset di bagian Ilmu Saluran Cerna dan aku pun tergabung dalam riset ini. Awalnya sih motivasiku melakukan riset sebenarnya agar bisa cepat lulus saja. Eh ternyata aku malah tercemplung di dalam dunia riset. 

Peneliti yang sukses terdiri dari tim yang beragam

Kalau kalian pikir peneliti itu hanya satu orang yang kerjaannya di lab, itu salah besar. Penelitian yang berhasil selalu dengan bekerja dengan tim, dan semakin banyak timnya dengan latar belakang dan ilmu yang bervariasi maka penelitian bisa lebih menyeluruh. 

Penelitian biasanya dilakukan dengan lintas ilmu, lintas universitas bahkan juga lintas negara, sehingga mau melakukan kolaborasi dan mendapatkan informasi sangatlah mudah. Kolaborasi ini bisa dilakukan juga di lintas negara dengan tujuan saling tukar ilmu, dapat bantuan mesin, mendapatkan bahan eksperimen, saling berbagi data, dan kesempatan untuk keluar negeri. Dulu aku sempat juga belajar di Jepang sebagai bagian dari kolaborasi dengan Universitas di Jepang. Aku juga sering keluar negeri untuk menghadiri simposium internasional, dimana ini ajang untuk membuka koneksi lebih luas dan kesempatan untuk memamerkan abstraksi ilmiah kita.  

Peneliti biasanya selalu bekerja di bawah payung besar, dimana yang mengayomi ini memiliki struktural manajemen, legalitas dan akses alat-alat penelitian. Biasanya bentuk payung bisa bermacam-macam entah itu perusahaan, universitas, instutusi ataupun rumah sakit, biasanya mereka bekerja di dalam Departement Research and Development (R&D). Sebagai seorang peneliti kamu tidak harus ngantor, biasanya ngantor ditentukan oleh jadwal karena setiap penelitian punya deadline. Deadline ini biasanya tergantung dari tenggat waktu dari pendonor penelitian. Jadi apa yang kita lakukan di bulan Januari tidak akan sama dengan apa yang kita lakukan di bulan Juni. Maka dari itu pekerjaan yang kita lakukan amat dinamis dan butuh kedisiplinan yang tinggi. 

Peneliti adalah orang yang dinamis 

Dunia riset adalah dunia yang paling dinamis dan membutuhkan orang-orang yang dinamis juga. Peneliti harus memiliki kedisiplinan dan konsistensi yang tinggi dalam menjalani profesi ini. Rutinitas seorang peneliti itu banyak sekali dari mengumpulkan data, lalu memberikan perlakuan terhadap data tersebut seperti diuji di publik atau disimulasikan melalui komputer, brainstorming, konsultasi, saling mengecek data kembali, proses penulisan paper, serta melakukan pengiriman paper penelitian agar dapat diterbitkan di jurnal ilmiah. Selain kegiatan yang berkaitan dengan data, peneliti juga akan melakukan banyak kegiatan administratif seperti mempersiapkan proposal, penulisan laporan dan sebagainya. Kerjaaannya banyak sekali. Tantangan terberat seorang peneliti adalah agar bisa terus 100% fokus dalam menjalani pekerjaan yang dinamis ini.  Karena pekerjaan yang amat dinamis maka Penelitian juga bisa dilakukan tanpa harus datang ke kantor alias kerja remote, terutama jika itu berkaitan dengan komputer, maka peneliti juga dituntut untuk bisa kerja fleksibel. 

Gandengkan dengan profesi lain biar karir melejit

Setelah menggeluti bidang riset, aku menemukan banyak hal yang menguntungkan buatku. Riset ini selaras dengan profesi klinisiku sebagai seorang dokter dan juga sebagai seorang dosen.Aku sarankan jika kamu ingin menjadi peneliti maka gandengkanlah dengan profesi lain dan jangan berdiri sendiri. 

Bekerja sebagai seorang peneliti dapat melejitkan karir sebagai tenaga pengajar. Karena salah satu syarat kenaikan pangkat, seorang tenaga pengajar harus melakukan penelitian, terutama di dunia universitas. Penelitian bisa juga menjadi fast track tenaga pengajar untuk bisa menjadi professor.  Tapi jika kamu bukanlah seorang pengajar dan ingin melakukan riset ilmiah maka bergabunglah dengan institusi-institusi riset seperti Eijkman Institute of Molecural Biology atau Institute Tropical Disease

Menulis jurnal bisa juga dapat insentif

Selain kesempatan keluar negeri dan membangun koneksi, peneliti juga bisa mendapatkan keuntungan insentif dari publikasi jurnal ilmiahnya. Insentif ini sesuai dengan kualitas jurnalnya. Jurnal ilmiah ini ada di tingkat nasional maupun internasional dan setiap publikasi akan memiliki rating tersendiri. Insentif ini tergantung dari rating tersebut, semakin tinggi ratingnya maka insentif yang diterima juga semakin besar. 

Pemerintah mulai peduli dengan penelitian 

Walaupun di Indonesia profesi seorang peneliti ini belum begitu dilirik sebagai profesi yang prestigious, kabar baiknya pemerintah Indonesia mulai peduli terhadap memajukan dunia penelitian dengan cara mengalokasi anggaran negara untuk mendanai proyek penelitian melalui dana hibah. Gaji peneliti biasanya kita dapatkan dari dana hibah ini yang termasuk di dalam rancangan anggaran biaya penelitian. Tapi penggunaan dana hibah ini juga ada aturannya. Jadi kita nggak bisa seenaknya mengalokasikan uang. Karena pada akhirnya kita juga harus melaporkan keuangan kita. Kesempatan untuk memperoleh dana hibah bisa ditemukan melalui website seperti Kementrian Riset dan Teknologi , Sistem Informasi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, dan LPDP . Dana hibah ini juga tidak hanya dari pemerintah tapi perusahaan pun juga bisa memberikan dana hibah untuk para peneliti

Learning by doing 

Jika kalian ingin menjadi seorang peneliti maka tentukan topik nya apa, semakin detail topiknya semakin baik. Lalu cari afiliasi dan akan lebih bagus lagi kalau kalian bisa menggandengkan dengan profesi lain agar bisa komplementer. Jadi seorang peneliti itu “learning by doing”. Tapi setidaknya kalian harus mengerti tentang SPSS, cara penulisan jurnal ilmiah dan sisanya akan kalian pelajari berdasarkan kebutuhan.