UI/UX Designer – jangan buat user mikir

  • UI/UX Designer memastikan tampilan produk digital agar mudah dipahami oleh usernya.
  • Seorang UI/UX Designer harus bisa berpikir kritis dan logis dalam membuat keputusan desain.
  • Kesuksesan seorang UI/UX Designer adalah jika penggunanya tidak harus berpikir dalam menggunakan aplikasinya. Harus dibuat simpel.
  • Portofolio sebagai UI/UX designer bisa kamu bangun walaupun kamu adalah lulusan baru.

Hasil pekerjaan UI/UX Designer sebenarnya paling sering kita gunakan sehari-hari tapi nggak banyak yang memahami inti dari pekerjaan ini. UI/UX Designer memegang peranan penting dalam memastikan tampilan produk digital seperti aplikasi agar mudah digunakan oleh usernya. UI/UX itu singkatan dari User Interface dan User Experience.  Sebagai seorang yang sudah menggeluti profesi UI/UX Designer selama 5 tahun ini, Jeriah Lau (@jeriahlau) akan berbagi kisah pekerjaannya.  

Bosku adalah mantan (klien) ku 

Jadi dulu aku berkuliah di Institut Teknologi Harapan Bangsa Bandung dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Aku mengambil jurusan ini karena dari jaman SMA aku memang hobi menggambar. Berbeda dengan Jurusan Seni Rupa, Jurusan Desain Komunikasi Visual lebih menekankan aspek desain dan audiens. Disini aku belajar tentang dasar-dasar desain, komposisi, layout, teori warna dan lain-lain. Sedangkan dari sisi audiens, di perkuliahan aku diajarkan untuk berempati kepada audiens. Hal-hal ini yang masih aku pakai sampai sekarang di pekerjaanku sebagai UI/UX Designer. 

Pekerjaan UI/UX Designer ini terbilang masih baru banget. Sewaktu aku kuliah aku juga sempat sambil nyambi kerja freelance sebagai Desainer Logo. Kebanyakan klienku saat itu adalah orang-orang yang baru membuat perusahaan dan belum punya logo.Salah satu klienku ini adalah bosku sekarang. Bosku mendapatkan kontak aku dari klienku sebelumnya yang puas atas hasil pekerjaanku. Kebetulan bosku saat itu juga sedang mencari seorang Designer. Setelah membuat logo untuk dia, bosku memilih aku karena taste desainku sesuai dengan apa yang dia cari dan juga komunikasi kita bagus. Maka dari itu dia memutuskan untuk mempekerjakan aku secara tetap 

Suka Duka Kerja Remote

RateIt adalah perusahaan yang bertugas untuk mengumpulkan customer feedback dari toko fisik dengan menggunakan aplikasi digital. Perusahaan ini berbasis di Australia dan timnya juga tersebar di seluruh dunia. Bagi orang-orang yang tidak tinggal di Australia maka pekerjaan dilakukan secara jarak jauh (remote). Tapi biarpun kerja jauh, aku tetap punya target untuk bekerja selama 40 jam dalam seminggu jadi rata-rata 8 jam per hari. Karena aku bekerja secara remote maka pekerjaanku sehari-hari dimulai dengan online meeting. Biasanya meeting ini dilakukan bersama dengan programmer. Dalam meeting kita menentukan prioritas dan mengalokasikan tugas. Kita menggunakan aplikasi project management seperti Jira, Trello atau Clubhouse untuk membantu koordinasi dan kolaborasi. 

Kerja remote itu susah-susah gampang, karena kita akan dituntut untuk bisa bertanggung jawab dengan diri sendiri. Apalagi mayoritas timku kebanyakan di Australia, dan aku sendirian tinggal di Bali. Kalau kamu kerja di kantor biasanya kamu akan ketemu dengan tim tiap hari, tapi tidak buat orang yang kerja remote. Tantangan terbesar bekerja remote adalah masalah komunikasi. Karena seluruh komunikasi kita lakukan secara online, terkadang banyak hal yang tidak bisa diungkapkan langsung seperti bahasa tubuh dan emosi. Jadi ini tantangan terberat dalam bekerja dalam tim remote.

Pastikan tujuan akhir dari aplikasi tersebut apa

Seorang UI/UX Designer bertugas agar aplikasi ini dapat dipahami oleh orang yang baru pertama kali menggunakan aplikasi tersebut. Jadi kita tidak hanya memastikan komposisi dan warnanya bagus, tapi juga apakah user tersebut bisa atau tidak menggunakan aplikasi kita. Karena pada akhirnya walaupun desain nya indah tapi kalau penggunanya tidak bisa menggunakan aplikasi kita, percuma dong. 

Perbedaan antara Graphic Designer dengan UI/UX Designer adalah di bidang fungsi dan juga estetikanya. Kalau Graphic Designer mereka masih menekankan pada estetika tapi kalau UI/UX Designer nilai estetika dan fungsi harus di seimbangkan.

Yang pertama harus dimengerti seorang UI/UX Designer adalah aksi apa yang akan dilakukan oleh user dan juga seorang desainer harus memahami apa kegunaan dari aplikasi ini. Biasanya aku akan bertanya langsung dengan user melalui user interview. Sebagai UI/UX Designer aku hanya mengobservasi bagaimana user berinteraksi dengan aplikasi tersebut. Setelah mengobservasi maka akan timbul asumsi, dan dari asumsi itu  aku akan membuat mockup, prototype. Lalu kita akan tes lagi berdasarkan asumsi baru. Kita akan terus mengiterasi sampai user experience nya lancar dan sesuai dengan ekspektasi kita. Biasanya proses ini bisa diulang dua sampai tiga kali. 

Kalau ibuku bisa pakai aplikasi ini berarti aku sudah berhasil

Sebagai UI/UX Designer kita dituntut untuk berpikir kritis dan logis. Karena kita harus melihat runtutan perjalanan seorang user: semisal tombol ini akan membawa si user ke halaman ini, lalu dari halaman ini kita ingin user untuk melakukan aksi A,B,C. Dan apabila si user ingin kembali ke awal, tombol apa yang harus ia pencet. Semua aksi ini kita rancang. Menurutku hal yang paling rewarding adalah ketika user sangat suka dengan tampilan aplikasi dan jika aku merasa aplikasi ini sangat mudah untuk dipakai. Standar yang aku pakai adalah kalau aplikasi ini bisa digunakan oleh ibuku berarti aku sudah berhasil membuat aplikasi ini aksesibel untuk semua orang. Maklum ibu-ibu kan biasanya gaptek. 

Latih empati dengan membuat app bodong

Buat kamu yang baru lulus kuliah dan belum punya pengalaman, sebaiknya kamu coba buat sendiri app bodong. App ini hanya berbentuk desainnya saja tanpa di develop lebi hlanjut. Mungkin kamu bisa buat apps untuk pemutar musik, booking hotel atau apapun yang ada di appstore. Cobalah mendesain tampilan appnya seperti apa dan lakukan user interview sendiri. Selain dari segi desain, latihlah empatimu dengan menentukan tipe-tipe user yang berbeda-beda, semisal aplikasi dengan target orang tua 50 tahun ke atas tentunya berbeda dengan target anak muda. Hasil coba-coba ini bisa kamu tampilkan ke dalam portofolio. Kalau kamu ingin menjadi seorang UI/UX Designer bangun portofoliomu di berbagai website seperti Carbonmade atau Dribbble. Saat ini sudah banyak platform platform yang memfasilitasi kamu untuk mencari kerja freelance sebagai UI/UX Designer melalui situs Upwork

Perbanyak juga ilmu untuk menggunakan tools-tools UI/UX Designer seperti Figma, Sketch, Adobe XD dan Invision.

Aku sarankan juga kamu untuk membaca buku “Don’t Make Me Think” dari Steve Krug di dalam buku ini diajarkan prinsip dasar User Interface. Karena user seharusnya tidak perlu berpikir keras untuk melakukan suatu aksi, kalau mereka mau melakukan sesuatu harusnya tinggal pencet aja.