B2B Product Marketer – Perlu Meyakinkan Banyak Pihak

  • B2B product marketer memasarkan produk ke bisnis lain, sehingga memiliki pendekatan berbeda dibandingkan B2C marketer 
  • Tugas utama dari product marketer adalah mempertahankan conversion rate dan skill yang penting untuk dimiliki adalah kemampuan menggunakan CRM tools, analytics tools, membaca pasar, dan menyampaikan value produk kepada calon konsumen
  • Product marketer merupakan posisi yang berpotensi banyak dicari di masa depan
  • Personal Branding dengan profil LinkedIn yang up-to-date, lengkap, dan relevan itu penting agar bisa menjadi talent yang didekati perusahaan untuk direkrut
  • Mengeksplorasi bidang keilmuan lain selain yang dipelajari di perkuliahan itu baik untuk mengungkap minat terpendam 

Memiliki tujuan awal menjadi seorang psikolog, Ervina Lutfi (@ervinalutfi) memutuskan untuk berkuliah di Jurusan Psikologi selepas SMA. Ia terbuka dengan informasi tentang hal yang belum populer di Indonesia saat itu, yaitu dunia startup. Dengan pertimbangan yang visioner, akhirnya ia beralih tujuan untuk berkarir di sebuah startup yang dinilainya sangat potensial di masa depan. Kini, ia menjadi B2B Product Marketer di Mekari, perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi.

Beralih ke Tujuan Visioner

Aku berkuliah di salah satu kampus psikologi di Jogja karena aku pikir waktu SMA aku ingin jadi psikolog. Selama berkuliah di Jogja, aku banyak berkomunitas dan sering bertukar pikiran. Aku juga banyak mengkonsumsi berita dari luar negeri, sampai akhirnya aku mendengar tentang dunia startup yang sedang hype di sana. Berdasarkan penelitian yang aku tahu, hal-hal yang hype di luar negeri, lima tahun kedepan akan hype juga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Sementara itu, aku merasa bahwa semakin lama kuliah, semakin aku sadar kalau aku nggak minat dengan psikologi. Aku pun nggak tahu harus jadi apa kedepannya di bidang psikologi. Lebih-lebih, aku mulai kenal dengan budaya kerja di Google yang memotivasiku untuk mencari tempat kerja seperti Google. 

Aku memutuskan untuk berubah haluan dan bertekad ingin kerja di perusahaan startup. Aku cari role apa aja yang diperlukan dalam perusahaan startup, lalu cari role yang mana yang cocok buat aku. Aku suka data, jadi awalnya aku coba-coba ikut course di bidang itu, tapi ternyata nggak cocok. Pernah aku coba juga pelajarin tentang sales, tapi nggak cocok juga. Sampai akhirnya aku coba digital marketing dan aku rasa aku suka dengan bidang ini. Kebetulan juga aku seorang blogger, jadi aku udah familiar dengan SEO.

Pekerjaan Datang dengan Sendirinya

Di perusahaan teknologi, jarang dibuka rekruitmen karena biasanya mereka akan melakukan pendekatan kepada kandidat pilihan mereka secara langsung. Dulu aku juga di-approach oleh HR perusahaan lewat LinkedIn.

Pekerjaan yang sekarang adalah pekerjaan ketiga atau keempatku. Biasanya, aku di-approach oleh perusahaan melalui LinkedIn di beberapa pekerjaan sebelumnya. Tapi, untuk memulai, dulu aku apply ke beberapa perusahaan untuk bisa mendapatkan kesempatan magang. Dari situ, aku membangun portofolioku di LinkedIn. Aku percaya, dengan jejak digital yang mudah dilihat oleh perusahaan dan profil LinkedIn yang up-to-date, aku bisa meyakinkan perusahaan bahwa aku capable untuk mengisi sebuah role. Dengan begitu, perusahaan akan datang menghubungiku dengan sendirinya bila mereka membutuhkan talent dalam tim mereka.

Menurutku, personal branding itu penting. Oleh karena itu, aku membangun profil LinkedIn-ku sedari kuliah dengan mencantumkan sertifikasi, pengalaman magang maupun online course, dan hasil karyaku. Aku juga berkumpul dan berelasi dengan orang-orang yang punya ketertarikan yang sama, serta meningkatkan engagement dengan relasiku lewat nimbrung comment atau like post-post mereka di LinkedIn. Selain itu, aku ikut event-event yang sesuai dengan minatku, jadi aku bisa ketemu orang yang minatnya sama, juga bisa belajar dan terhubung dengan orang yang ahli di bidang tersebut. 

Menumpas Hambatan dan Berkoordinasi dengan Banyak Pihak

Karena pandemi, udah 3 bulan aku work from home. Sebenarnya, hal ini bikin waktuku terpakai secara lebih efisien tanpa harus ngantor. Tim kami bikin agreement bahwa tiap pagi kita akan adakan daily stand up dimana tiap anggota tim akan lapor apa saja yang akan dikerjakan dalam 24 jam ke depan dan apa saja yang sudah dikerjakan dalam 24 jam yang lalu. Selain itu, tiap anggota juga harus menyampaikan hambatan dalam mengerjakan tugas mereka hari ini sehingga mempermudah manajer untuk menumpas hambatan tersebut dan berkoordinasi dengan divisi lain.

Di kantorku, ada sistem quarterly review. Jadi, sebagai manajer, aku perlu membuat laporan, meeting, dan koordinasi dengan divisi lain untuk menentukan rencana kerja kuarter selanjutnya.

Sebagai product marketing, kerjaanku adalah mempertahankan conversion rate. Misalkan conversion ratenya 50%, jadi dari 10 orang calon customer, harus ada 5 yang bisa closing.. Jadi, biasanya aku mantengin CRM (Customer Relationship Management) tools untuk memonitor berapa leads atau calon customer yang masuk, berapa yang sedang diproses, apa hambatan-hambatan yang terjadi dalam prosesnya, sehingga bisa langsung diatasi secepatnya. 

Selain itu, kalau ada produk baru, aku juga harus mengidentifikasi channel apa yang tepat untuk memasarkan produk tersebut. Aku juga harus nyiapin peluncuran produk, channel pemasaran beserta analytics-nya, termasuk berkoordinasi dengan tim event untuk mengadakan event dan memastikan event tersebut menyampaikan pesan yang sesuai.

Pentingnya Skill Membaca dan Menulis

Skill yang aku bangun di sini adalah skill membaca dan menulis. Sebagai marketer, kita perlu memahami pasar dengan banyak membaca dari berbagai sumber. Selain itu, kita juga perlu menulis message kepada calon customer untuk meyakinkan mereka bahwa produk kita memiliki value yang worth it untuk dibeli. 

Skill praktikal juga terbangun, seperti contohnya skill digital marketing, SEO, SEM, analytics, membaca data digital, event organizing, dan product development. Sebagai product marketer, banyak skill yang dibangun secara dasar agar bisa mengorkestrasi itu semua.

Menyadarkan Konsumen Bahwa Mereka Butuh Produk Kita

Memasarkan produk kepada bisnis lain berbeda dengan memasarkan produk kepada end user. Kita perlu meyakinkan banyak pihak di perusahaan karena produk tersebut akan dipakai oleh banyak pihak. Selain itu, investasi yang mereka keluarkan juga tidak sedikit. 

Perusahaan tempatku bekerja memiliki produk SaaS (Software as a Service) yang belum populer di Indonesia. Maka, tantangan kita sebagai marketer adalah mengedukasi mereka dan menyadarkan mereka bahwa mereka membutuhkan produk kita yang mungkin selama ini belum mereka ketahui keberadaannya.

Berinvestasi di Pekerjaan yang Bernilai Tinggi di Masa Depan

Aku seneng dengan kerjaku yang fleksibel. Kami diperbolehkan kerja dari luar kantor dan nggak harus datang ke kantor di jam tertentu. 

Selain itu, menurutku, benefit lainnya adalah aku akan memiliki value yang tinggi dengan memiliki pengalaman di industri ini. Industri teknologi mungkin masih kecil di masa kini, namun aku yakin akan semakin besar di masa depan. Menurutku, di masa depan, posisi sebagai product marketer akan selalu dicari, jadi aku akan memiliki nilai tawar yang tinggi. 

Asah Kemampuan Menggunakan Tools dan Jangan Baperan

Kalian bisa mulai mengasah hard skill dengan ikut sertifikasi gratis dari Google Analytics dan HubSpot. Kalian juga bisa masukin sertifikat dari Google dan HubSpot itu di LinkedIn sebagai bagian dari portofolio. Kalian juga harus belajar email marketing pakai tools seperti MailChimp, Zoho, dan Send in Blue. Selain itu, belajarlah CRM juga, dengan tools seperti misalnya SalesForce, HubSpot dan Zoho. Kalian bisa belajar gratis dari online academy dari tools-tools tersebut.

Dari segi kepribadian, butuh orang yang nggak baperan karena seorang product marketing harus berhadapan dengan orang dengan berbagai tipe kepribadian. Lebih bagus kalau tidak terlalu pendiam dan memiliki pendirian karena role-nya ada di tengah-tengah.
Biasanya roleproduct marketing memerlukan kandidat yang udah punya pengalaman. Untuk fresh graduate dan untuk kalian yang masih sedikit pengalaman tentang product marketing, kalian bisa mulai ambil role yang mendekati, seperti digital marketing, technical writer, performance marketing atau associate product marketing. Bisa juga ambil internship di bidang product marketing dulu.